Rabu, 17 Maret 2010

filsafat Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya…”, ujar Pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah ke samping. Pak Tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua tersebut lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.

“Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamua merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu adalah wadah itu. perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar dari hal itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu kembali menyimpan ’segenggam garam’ untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Jumat, 12 Maret 2010

semburat cinta dimasa lalu

pada hari rabu kemarin, entah kenapa aku tak bisa menyembunyikan airmataku didepan siswa-siswi kelas X2. aku sudah lama sekali mencoba melupakannya. sbuah nama yang pernah kubenci, tapi tanpa kusadari dia telah mengisi kekosongan hatiku ketika dia pergi dan tak kembali lagi...
king of sleeply, begitulah teman-teman sekelasku memanggilnya. tapi yang diberi gelar malah cuek bebek. meski guru2 sering menegurnya karena tidur dkelas, dia juga cuek2 aja. tpi itulah dia, saiful tetap cuek dengan keadaan disekitarnya. selain itu di juga amat sangat bandel. suka ngerjain teman-temannya, termasuk aku. bahkan aku yang paling sering dia kerjain. tak terhitung berapa kali dia menaruh kecoa di tasku, menaruh kodok di bangkuku, dan dia pernah hampir membuatku pingsan karena menaruh laba-laba di jilbabku. benci, marah, jengkel campur aduk jadi satu karena ulahnya.
karena tidak tahan dengan tingkah lakunya, aku memberanikan diri mengadukannya ke BP. dia sering menjahili aku karena suka sekali melihat wajahku yang panik ketakutan. tentu saja aku marah bukan main. tega-teganya dia menari diatas penderitaanku! memangnya apa salahku terhadapnya? akhirnya dia pun berjanji g akan melakukannya lagi. takupun bernafas lega. tapi ternyata...sepulang sekolah dia mengancamku.
" kalo sampai kamu ngadu lagi ke pak darto, awas kamu!" ancamnya smbil mengepalkan tangan kemukaku. aku yang waktu itu masih lugu dan pendiam banget, cuma menunduk ketakutan.
semenjak itu aku benci padanya. sangat membencinya. ayahku saja tak pernah mengancam memukulku tapi dia?! memangnya dia siapa?! dia cuma sumber permasalahan bagi guru dan teman-temannya!
tapi entah kenapa kebencian itu menguapa begitu saja seiring dengan berjalannya waktu.
mungkin karena terbiasa mendapatkan kejutan berupa kecoak, cacing, kodok dll, aku sudah tidak phobia lagi terhadap hewan-hewan itu. lagipula kalo dipikir lagi, hewan2 itu tidak menyakitiku, malah kayaknya hewan-hewan itu yang ketakutan kalo melihatku. dan dia pun kecewa melihatku tak berteriak ketakukan saat mendapati hadiahnya ditas, bangku dan sepatuku.

musim ulangan pun tiba, dia gelagapan karena tak pernah mencatat pelajaran dan mengerjakan tugas. kalaupun masuk sekolah, dia hanya datang untuk tidur dikelas. entah karena kasihan atau apa, aku meminjaminya buku2 catatanku. dengan muka heran, dia menerima niatan baikku.
" kamu ga marah ma aku?" tanyanya keheranan.
" marah? harusnya aku berterimakasih. karena kamu, sekarang aku sudah tidak takut lagi pada mereka " kataku sambil tersenyum padanya.
" mereka? siapa?"
" kecoa, cicak, cacing dkk" jawabku.

sepulang sekolah, aku terkejut bukan main melihatnya menungguku di depan pintu kelas. ternyata dia memberiku coklat, sebagai tanda terima kasihnya padaku. dia bilang aku manis seperti coklat. aku tahu itu gombal, tapi entah kenapa aku suka mendengarnya. mungkin karena dia laki-laki pertama yang mengatakan aku manis, setelah ayahku.
tak hanya itu! dia juga mengantarku pulang. aku tentu saja menolaknya. apa kata ibuku kalo tahu anak perempuannya dibonceng cowok? aku bisa diomelin 24 jam nonstop!
" ya sudah kalo tidak mau. tapi aku benar-benar berterima kasih sekali atas bantuan kamu"
" iya sama-sama. tapi besok-besok kamu harus mencatat dan mengerjakan tugas. g boleh males" kataku tanpa bermaksud menasehatinya.
" aduh! kamu tuh kayak ibuku aja. suka nasehatin" curhatnya " CEREWET"
" ibuku juga cerewet. tapi beliau seperti itu karena sayang sama kita..."
" kalo beliau sayang sama aku. gak akan ada perselingkuhan, g akan ada perceraian"
aku terkejut bukan main. jadi seperti itukah keluarganya? dan hari itupun dia bercerita panjang lebar padaku. curhatlah intinya. dan dengan penuh perhatian aku mendengarkan semua keluh kesahnya.
" tapi kamu jangan ngerusak diri kamu sendiri hanya karena kecewa sama ortu kamu. justru ini jadi pelajaran dan cermin biar nanti kalo berkeluarga, kamu g akan melakukan hal yang sama seperti ortu kamu" kataku." segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Allah punya rencana indah dalam hidup kita"
dia tersenyum sambil memandangiku.
" ya ustadzah"godanya
" kok manggil aku ustadzah?" tanyaku sewot.
" kenapa kamu g jadi guru agama aja seperti almarhum ayah kamu?"
aku balas tersenyum padanya.

tapi dia tetap bandel...
tetap saja jadi trouble maker, meski tidak usil padaku lagi.
tetap saja tertidur dikelas.
dan tetap malas mengerjakan tugas.

teman-teman yang menjadi korban kenakalannya tak rela jika aku berteman dengan dia.
" apa sih untungnya berteman dengan dia?!"
" kamu g pantas berteman dengan dia!"
" mau aja kamu dimanfaatin cowok kayak dia!"
" sebelum kamu ikut2an gila kayak dia, mendingan kamu jauhin dia,cha"
itulah komentar teman-temanku. tapi bagiku berteman itu harus tulus. dengan siapapun kita bisa berteman. bahkan dengan penjahat sekalipun. aku teringat dengan kata-kata almarhum ayahku. " kita boleh bercermin diair yang keruh. asalkan jangan sampai tenggelam kedalamnya. yang harus kita lakukan adalah mengubah air keruh itu menjadi jernih kembali"
" kamu mau jadi pahlawan kesiangan?" tanya temanku, febriana saat kuberitahu alasanku berteman dengan saiful.
" aku kan cuma ingin membantunya. apa itu salah?"
" ya salah lah! cowok kayak dia tuh g pantas kamu bantu!"
aku cuma terdiam. wajar jika semua teman-teman membencinya. jadi, aku pun mengajak saiful untuk meminta maaf pada teman-teman atas kenakalannya selama ini. tapi apa jawabannya?
" kamu pikir kamu siapa?! nyuruh2 aku minta maaf ke mereka!" bentaknya.
" ya kan g ada salahnya kamu minta maaf ke mereka. ingat g kamu dulu pernah bikin toni jatuh dari sepedah-nya. g cuma k teman2 lain, kamu juga pernah ngerusak sepedah motornya pak ahmad dan entah sama siapa lagi kamu dah bikin kesalahan. apa susahnya minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi? mereka pasti menerimanya kok" bujukku.
" kamu tuh sama aja kayak ibuku!" makinya. aku terkejut bukan main. sabar cha, sabar...
" aku kan..."
" dah lah! kamu g usah sok ngertiin aku! kmu berteman denganku cuma karena kasihan kan?!" potongnya cepat." asal kamu tahu, aku g butuh kamu kasihani! dan berhenti mencampuri urusanku!"
dia pun pergi tanpa melihatku lagi.
keesokannya aku mendapati berita yang sanggup membuatku menangis sesudah mendengarnya. saiful... meninggal karena kecelakaan sepulang sekolah. aku tak sanggup lagi menahan hujan airmata. dan akupun pingsan seketika...
rasanya baru kemarin aku berbincang dengannya, menatap indah matanya dan sekarang didepanku kini tinggal gundukan tanah. dan dibawahnya ada orang yang kusayangi... dia sendirian disana...
aku kembali teringat saat dia mengatakan ingin bisa membaca Al Qur'an, tapi sampai dia meningggal dia belum sempat mempelajarinya.

kenapa kamu pergi disaat aku menyadari bahwa aku sayang sama kamu ful...
kenapa kamu pergi disaat kamu belum meminta maaf pada orang yang kamu sakiti?

aku kangen sekali sama kamu...
apa yang sekarang kamu lakukan di alam sana?




Minggu, 07 Maret 2010

ada Annisa, farida, ayong, ulil, stevi, rahmad, alfian, aziz dkk.mereka semua siswa kelas X2 d SMA GEMA 45. duh bentar lagi g ketemu mereka lagi deh cos PPL-nya bentar lagi selesai. kelas yang seru, karena siswanya lucu2.
farida, salah satu muridku d Tk, kata teman-teman wajah kami mirip. kayaknya kalo ku punya ank cewek persis kayak dia mungkin ya? hehehehe...
anak-anak TK desa cengkrong waktu ku masih KKN. tuh liat meski mereka anak-anak dari desa, tapi gaya mereka g kalah sama foto model terkenal di ibu kota. ya kan?
semangat mereka untuk belajar ilmu agama bikin aku terharu. biar malam-malam mereka rela datang k kosku waktu masih KKN di desa cengkrong.

khumairah dan laili, 2 anak yang kusayangi. gadis desa cengkrong yang berusaha merubah nasib lewat pendidikan.belajar yang rajin ya nak...
duh senangnya berada dtengah mereka. kapan ya bisa ketemu mereka lagi...?
2 malaikat kecil yang amat kusayangi, meski sekarang kita tak bisa bertemu lagi. kalian tetap dihati ibu...
putra, eva dan farida... senyum manis kalian tak akan pernah ibu lupakan. kalianlah bintang terang digelapnya malamku.ibu sayang sekali pada kalian...
ni sapa ya dulu yang motret. pas nyuapin kok sempat-sempatnya di foto. hehehe... tapi natural kan?

wajah tanpa ekspresi. biar gitu kamu tetap manis kok nak...
eva... sukanya dipangku dan aku sendiri suka memangku. hehehe cocok deh

Senin, 26 Oktober 2009

INILAH KEBAHAGIAANKU

kemarin (25/10/09) aku bersama teman-teman KKN bersilaturahmi k pasuruan, kecamatan pasrepan, desa cengkrong tempat kami KKN. sambutan dari masyarakat cengkrong begitu antusias menyambut kami. perut kami kenyang karena tiap rumah disuguhi makanan lezat buatan mereka khusus untuk kami. kami beruntung bisa KKN didesa pada tanggal 15 juli 2009 lalu, karena masyarakat desa lebih tinggi rasa solidaritasnya dibandingkan masyarakat kota. desa cengkrong bukan desa biasa, desa ini sangat terpencil.
aku sangat prihatin dengan nasib pendidikan dicengkrong, terutama untuk kaum perempuan. satelah mengenyam pendidikan di bangku SD, mereka harus tinggal dipondok pesantren dan sepulang dari ponpes mereka akan dijodohkan dengan laki-laki pilihan orangtua mereka (hik hik sama kayak nasibku...). dari mbak ruqayah temanku didesa cengkrong, aku dapat informasi yang valid tentang nasib perempuan didesa ini, karena dia sendiri adalah korban dari pernikahan tanpa cinta. diusianya yng ke-20 dia harus menjadi janda, suami yang tidak dicintainya suka main tangan. aku bisa merasakan kesakitannya karena cibiran masyarakat menilainya sebagai janda kembang (sama kayak nasib ibuku dulu...hik hik). ku jadi benci banget sama laki-laki apalagi sebelumnya aku juga pernah disakiti kaum adam, bukan sekali tapi berkali-kali. melihat kaumku disakiti kaum lelakipun aku juga tidak terima, ingin rasanya aku menampar mereka yang mencampakkan kami begitu saja. ditambah lagi ada salah seorang perangkat desa yang punya istri simpanan dan menelantarkan istri dan 3 anak perempuannya, aku jadi tambah AMAT SANGAT BENCI SEKALI pada kaum lelaki. sudah berapa kali aku menemukan fenomena menyakitkan ini didepan mataku? beratus-ratus kali! ini bukan novel, ini kenyataan! begitu mudahnya lelaki mencampakkan kami begitu saja.
tapi untungnya ditengah padang kebencian itu, aku menemukan oase yang mampu mendamaikan hatiku. oase itu adalah anak-anak...
aku begitu beruntung mendapatkan limpahan kasih sayang dari mereka. cinta mereka tulus, suci murni tanpa dilandasi nafsu dan embel-embel yang lain. didunia itulah aku menemukan bahwa didunia ini ada cinta yang sangat tulus... cinta dari anak-anak, malaikat kecil tak bernoda.
waktu aku KKN aku sering mengajar mereka mengaji di kos2an tempat kami KKN dan membantu mengajar di TK, meski mereka nakal bukan main tapi itu bukan maslah bagiku. aku sudah terbiasa menangani anak-anak nakal di sekolah tempatku mengajar dulu d Surabaya, tapi sekarang ku dah ngajar lagi disana ( YA Allah... ku kangen banget ma anak-anakku di TK). aku terpaksa berhenti karena disuruh suamiku, padahal aku dah nangis berhari-hari supaya dia ga nyuruh aku keluar dari TK. tapi ternyata suamiku tak luluh oleh tangisanku, baginya jika ingin jadi istri sholikhah harus nurut ma suami. ingin marah tapi kupendam, sakit rasanya harus melakukan sesuatu yang bukan kemauan kita. dari kecil ku harus nurut apa kata keluarga, sudah berkeluarga aku harus nurut ma suami. apa mereka pikir aku benda mati yang tak punya keinginan?
dan malaikat kecil itu datang memeberikan senyum manis dan ocehan lucu mereka, menyapu dukaku dan memberikan pelangi di suramnya duniaku. aku menangis saat mereka menangis melepas kepulanganku dari KKN, bahkan kemarin ku diberitahu beberapa anak sampai sakit menyebut namaku. seperti juga kemarin waktu aku bersilaturahmi kesana, mereka... anak-anakku menangis saat mobil membawaku pulang kembali k surabaya. kulihat lagi boneka, kalung, bunga-bunga, gelang, bros, jepit dan barang-barang lain kesukaan anak-anakku. mereka memberikan semua itu agar aku tetap mengingat mereka. walaupun aku tak pernah memberiikan apapun untuk mereka tapi mereka malah memberiku harta benda kesayangan mereka...
merekalah kebahagiaanku... malaikat kecilku...

kenangan KKN
sebelum berangkat KKN, bergaya dulu didepan kampus. tapi kok ada yang belum siap difoto ya? masih menata jilbabnya. hehehe...
sampai didesa cengkrong, kita disambut dibalai desa. sambil makan semangka kita berbincang-bincang dengan para warga. so close.
tiga serangkai, aku, risma and likha.
keakraban dipagi hari, didepan rumah kost-kosan. meski lum mandi, tetap nekad aja ikutan foto. aduh mana baju ma sandalnya g matching. biar gitu tetap imut kan ( hehehe penyakit narsisnya kambuh nih)
inilah kami, bidadari turun dari genteng. duh kangen banget ma kebersamaan kita fren... i love u all.
sebelum masak, foto-foto dulu biar masakannya enak. wakakak g ada hubungannya kaleee!
my lovely angels. betapa damainya bersama mereka. ocehan lucu, tawa riang, tangis mereka masih terngiang ditelingaku.
waktu itu aku lagi sakit flu sampai g bisa ikut kegiatan didesa. malamnya ku dapat kejutan, ada malaikat-malaikat kecil yang menjengukku. so sweet... aku langsung sembuh keesokan harinya... berkat kehangatan kasih sayang mereka... thanks buat obatnya ya.
perpisahan dengan guru-guru SD tempat kita mengajar.
malam perpisahan dengan warga desa. banyak yang nangis, kita jadikan ikutan nangis karena terharu.

Sabtu, 11 Juli 2009

pernikahan tanpa cinta

mataku kosong menatap para tamu yang memberiku ucapan selamat. aku tertawa tapi tak bisa, selamat untuk apa? ingin aku menangis tapi kucoba membendung banjir airmata itu. kutak ingin ibuku melihat kesakitanku. kutak ingin para tamu melihat kepedihan hatiku.
jadilah malam ini aku pura-pura bahagia, tersenyum meski airmataku siap membanjiri acara resepsi pernikahan itu.
aku anggap saja malam ini adalah mimpi buruk. jika aku membuka mata, semua akan berbeda.
kupejamkan mata... membayangkan orang yang kucintai malam ini datang menjemputku, membawaku pergi dari mimpi buruk ini.
dan saat kubuka mata...?
kenyataan tetaplah kenyataan. meski aku ingin merubahnya, tapi aku harus menerimanya, menelannya sepahit apapun itu...
orang yang kucintai tak juga datang malam ini..
teman yang ku sayangi hanya singgah sebentar mengusap perih hati...
orang yang tak kucintai tersenyum dan menggenggam tanganku..
haruskah aku memintanya melepaskanku?
haruskah aku mengusirnya dari kamarku?
harusnya aku melarangnya menyentuhku?
sementara saat ini aku harus memangginya "suami"
haruskah aku menyerahkan tubuhku jika hatiku hanya untuk orang lain?
haruskah aku tersenyum mesra untuknya padahal hatiku menangis?
ingin aku pergi melarikan diri dari kenyataan ini. tapi hukum islam telah mendoktrinku untuk menjadi istri sholikhah jika ingin menjadi penghuni surga.
ingin aku melarangnya menyentuhku. tapi hukum islam telah mendoktrinku untuk melayaninya jika tidak ingin dilaknat oleh Allah dan seluruh makhluk ciptaan-Nya.
ingin aku menentang kemauannya yang tak sejalan dengan kenginanku... tapi hukum islam telah mendoktrinku untuk mematuhi segala perintahnya jika tidak ingin menjadi istri durhaka...
aku lihat kembali wajah suamiku...
keriput telah menghiasi wajahnya...
serpihan warna putih telah menghiasi rambutnya...
Ya Allah beri hamba keikhasan hati dalam menghadapi semua ini...
beri hamba kekuatan untuk menerima kenyataan ini...
bukakanlah pintu hati hamba untuk mencintai suami hamba...
semoga seiring berjalannya waktu hamba bisa merajut serpihan cinta untuk dia
Amin...

Kamis, 11 Juni 2009

lelah

Tuhanku...
mungkin inilah batas perjuanganku...
aku telah mencoba merubah semua...
tapi...
Kau lihat sendiri....
aku terluka jiwa dan raga...
ternyata Kau tak juga merubah kehendak-Mu
meski hamba sudah berjuaang...
sampai tenaga dan harapan itu habis tak tersisa...
jika memang ini yang terbaik...
beri hamba kebeningan hati...
tuk menerima takdir-MU Ya Robbi...
tapi Tuhan...
beri hamba kesempatan satu kali lagi...
untuk merasakannya...
meski setelah itu...
hamba harus kehilangannya...
selama-lamanya...
meski sakit...
meski perih...
hamba akan menerimanya...

Rabu, 10 Juni 2009

cinta dan persahabatan

haruskah persahabatan mati karena cinta?
padahal sahabat adalah yang pertama menghuni lubuk hati kita
yang menghiasi hari-hari kita
ketika cinta belum datang
tapi kenyataannya iya.
karena dalam cinta banyak tuntutan
sehingga cinta menjauhi sahabat
karena cinta yakin hanya cinta yang mampu membawa kebahagiaan
sedangkan cinta takut kalau hatinya kan dicuri oleh sahabat
lalu dia melarang cinta bersahabat...